Pada tahun 1991 Xanana naik motor dari Nuntali ke Dili

Xanana sedang menyetik menggunakan mesik ketik yang digunakan pada tahun 1991 ketika bersembunyi di tempat ini. Foto The Oe-Kusi Post/Raimundos Oki.

HUMBOE (TOP) – Situasi di Timor-Leste pada tahun 90-an semakin memanas dan sangat tidak mungkin bagi seorang komandan FALINTIL naik motor dari Ermera ke Dili karena hampir di semua sudut jalan dipenuhi dengan intelijen sipil maupun intelijen militer Indonesia, tetapi panglima pasukan FALINTIL, Kay Rala Xanana Gusmão sempat lolos dan berhasil.

Pada 29 tahun yang lalu sebelum militar Indonesia menangkap Xanana, dia sudah bersembunyi di sebuah rumah kecil di kampung Nuntali, suku Humboe, kabupaten Ermera.

Mantan panglima FALINTIL ini menjelaskan pada tahun 1991 dia jalan dari Ponta Leste (Lautem) ke Vikeke, Baukau, Manatuto, Ainaro dan sampai di Ermera. Di Ermera, dia bersembunyi di sebuah rumah kecil di kampong Nuntali, suku Humboe, kabupaten Ermera. Pemilik rumah ini adalah seorang katekis dengan nama kodenya Airmano Raikutun dan istrinya bernama Halima. Xanana bersama lima orang pengawalnya menetap dirumah ini selama satu bulan.

Dia menambahkan, selama tinggal di rumah ini selalu masuk-keluar hutan dan melakukan perjalan ke Dili, tetapi kemudian keberadaanya sudah tercium oleh intelijen militar Indonesia, Xanana memutuskan pindah lagi tempat persembunyiannya. Dia pindah dari kampung Nuntali menuju ke Dili dengan naik motor.

"Karena itu ada satu orang bernama Peking, dia pendek. Dia datang bawa motornya mengangkut saya pulang ke Dili. Ketika sampai di Dili kalau dia lihat militar dia lari pela-pelan dan setelah lewat di lari kencang,” Xanana menjelaskan kisahnya kepada para wartawan di kampung Nuntali, Ermera Minggu 14 Juni 2020.

Pahlawan kemerdekaan Timor-Leste ini menjelaskan pada tahun 1990-an situasaun masih sangat panas di bumi Lorosa’e dimana pemerintah Indonesia semakin menambah personil militar di seluruh pelosok di Timor-Leste dengan tujuang untuk membunuh semua para pejuang baik di dalam kota maupun di dalam hutan.

Sejarah Xanana bersembunyi di Nuntali karena atas bantuan seorang pastor katolik almarhum Mario Belo. Xanana mengenal pastor Mario Belo sejak masih sekolah bersama di seminari katolik pada tahun 60-an. Pastor Mario Belo yang membawa Xanana ke Ermera untuk membangun jaringan bawa tanah untuk mendirikan satu markas FALINTIL disana karena menurutnya bahwa sejak tahun 1978, semua markas FALINTIL sudah tumbang tetapi di Ermera masih ada banyak komandan FALINTIL dan pasukannya.

Pada waktu itu, Xanana bersama anggota lainnya mulai mengorganisir perang hanya sampai di Ainaro, dan pada waktu yang bersamaan juga hampir semua orang sudah turun dari gunung pergi tunduk kepada militar Indonesia, tetapi di Ermera masih ada banyak pasukan FALINTIL, dan di Likisa juga masih ada komandan Maucaro 305 dan Samba 9. Mulai dari saat itu Xanana mulai melakukan kontak dengan para anggota FALINTIL di wilayah ini bersama almarhum Nino Conis Santana.

Xanana menyatakan tidak akan pernah melupakan beberapa tempat persembunyiannya pada masa perlawanan nasional.

Rumah sederhana sudah hampir 29 tahun, kini tuan rumah masih mengimpan fasilitas-fasilitas yang digunakan Xanana pada waktu itu seperti masih tersimpan sebuah mesin ketik, tempat tidurnya masih utuh dan fasilitas lainnya. Rumah ini juga masih terlibat sederhana, terutama kamar yang digunakan Xanana pada waktu itu hingga saat ini masih tetap.

“Sebenarnya museum perlawanan harus mendokumentasikan tempat ini,” Xanana meminta.

Xanana yang menjadi tahanan politik selama 7 tahun di penjara Cipinang, Indonesia menjelaskan tujuan pertama ketika tiba di Ermera adalah mencari anggotanya yang masih hidup seperti coordinator OJECTIL Paulino Monteiro yang didampingi oleh almarhum Sera Key, almarhum Nino Conis Santana, Ernesto Fernandes “Dudu”, Eduardo Barreto “Dusae” dan yang lainnya untuk tetap melanjutkan perlawanan demi kemerdekaan total.

Xanana berpose bersamah tuan rumah yang meyembunyikannya di kampung Nuntali, Humboe, Ermera pada tahun 1991. Foto diambil pada 14 Juni 2020. Foto The O-Kusi Post/Raimundos Oki

Xanana juga sempat bersembunyi di satu tempat bernama Aiceu di suku Raimerhei dekat dengan tempat persembunyian komandan Nino Conis Santana di Mertutu. Di tempat ini untuk membentu koneksi dengan masyarakat untuk memberi bantuan makanan kepada para FALINTIL yang masih bertahan di hutan untuk memperluas wilayah perlawanan ke Zona Bobonaro, Atsabe, Kailaku hingga Suai.

Setelah Xanana pergi bersembunyi lagi di Fatumeta, dia melakukan kontak dengan komandan almarhum David Alex Daitula dan Taur Matan Ruak untuk meminta bantuan senjata kepada mereka yang ada di Ermera.

Setelah mengisahkan kisahnya, Xanana memeluk tuan rumah Armanda Araújo Arranhado “Halima” dengan air-mata berlinang dan mengucapkan terima kasih karena sudah sedia menyembunyikannya pada waktu itu.

"Kalian turut berpartisipasi dalama perlawanan nasional ini saya tidak akan lupa. Kalian sangat berani menyembunyikan saya di rumah ini. Hari ini kita dengan banyak orang yang berteriak bahwa mereka adalah pahlawan tetapi mreka inilah yang menyelematkan saya. Mereka tidak angguh, tidak menuntut banyak, kalian sangat berani memberi keamanan kepada saya, memri saya makan setiap hari. Tahun depan kalau saya ada waktu saya akan rayakan hari ulang tahun saya di rumah ini,” Xanana menjanji kepada Halima dengan air matanya mengalir.

Pada saat yang sama, veteran Luis António Salsinha “Airmano Raikutun” bersama istrinya Armanda Araújo Arranhado “Hallima” menganggap kunjungan Xanana ke tempat persembunyiannya pada tahun 29 silam sebagai sebuah berkah karena kamar kecil ini, rumah kecil ini termasuk salah satu sejarah dalam proses perjuangan nasional untuk mencapai kemerdekaan nasional.

Halima menyatakan, pada awalnya dia merasa takut saat menyembunyikan Xanana dirumahnya tetapi selalu dapat nasehat dari suaminya bahwa harus melindungi Xanana di tempat ini untuk melakukan strategi perlawanan nasional demi kemerdekaan bangsa Timor-Leste.

“Ketika Xanana mulai menulis surat dengan mesin ketik ini kami melempar biji jagung ke atas rumah untuk kasih makan burung agar membuat keributan supaya orang jangan mendengar bunyi mesin ketik,” Halima menjelaskan.

Dia menambahkan pada waktu itu, semua orang tidak berani untuk menyembunyikan Xanana karena kalau militar Indonesia tahu akan membunuh mereka semua.

“Tetapi kami sangat yakin dan percaya diri bahwa Xanana akan selamat di tempat ini. Suami saya sorang katekis bekerja di gereja katolik dengan pastor Mario Belo. Jadi, kami selalu berdoa meminta bantuan Tuhan Yang Maha Esa untuk melindungi kami semua”.

Raimundos Oki
Author: Raimundos OkiWebsite: https://www.oekusipost.comEmail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Xefe Redasaun & Editor

PUBLISIDADE