The Oekusi Post hadir sebagai media partner Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dalam sesi ini.
DILI (TOP) - Di tengah forum kebijakan luar negeri terbesar yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), satu nama dari kawasan Pasifik turut mencuri perhatian: Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta. Peraih Nobel Perdamaian ini menjadi salah satu pemimpin dunia yang mengonfirmasi kehadirannya dalam Global Town Hall 2026, forum virtual bertema "Calling for a Global U-Turn: Recentering Development, Reclaiming Humanity, Restoring Justice in a Crazi(er) World" yang berlangsung Sabtu, 19 September 2026. Dalam sesi khusus yang menghadirkan Ramos-Horta ini, The Oekusi Post turut hadir sebagai media partner FPCI memperkuat liputan dari perspektif Timor-Leste atas forum multilateral berskala global tersebut.
Kehadiran Ramos-Horta bukan sekadar simbolis. Ia tampil dalam sesi bertajuk "The United Nations We Need," sebuah dialog langsung antara kandidat Sekretaris Jenderal PBB mendatang, Rebeca Grynspan asal Kosta Rika, dengan perwakilan masyarakat sipil global. Sesi yang dimoderatori Desi Anwar, Senior Anchor CNN Indonesia, ini digelar pukul 19.20–20.35 WIB momen yang oleh penyelenggara disebut sebagai kesempatan langka, di mana calon pemimpin tertinggi PBB bersedia mendengarkan langsung aspirasi dan kekhawatiran publik dari berbagai penjuru dunia.
Rekam jejak panjang di forum PBB
Bagi Ramos-Horta, forum multilateral semacam ini bukan hal baru. Hubungannya dengan PBB terbentang jauh sebelum ia menjabat presiden sejak masa mudanya sebagai eksil politik yang berkeliling dunia menyuarakan perjuangan kemerdekaan Timor-Leste dari pendudukan, ia dikenal luas sebagai salah satu diplomat paling gigih yang membawa isu Timor-Leste ke meja-meja diplomasi internasional. Perjuangan itu membuahkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 1996, yang ia terima bersama Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo atas upaya mereka mencari penyelesaian adil dan damai bagi konflik di Timor-Leste.
Rekam jejaknya di mimbar PBB terus berlanjut usai kemerdekaan. Pada Sidang Majelis Umum PBB 2023, misalnya, Ramos-Horta menyampaikan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo atas keketuaan Indonesia di ASEAN yang berhasil menyusun peta jalan bagi Timor-Leste sebelum menjadi anggota penuh blok tersebut pidato yang saat itu turut menjadi sorotan media Indonesia. Momen itu mencerminkan pola yang konsisten dalam gaya diplomasi Ramos-Horta di forum PBB: memanfaatkan podium global bukan hanya untuk menyampaikan pandangan Timor-Leste, tetapi juga untuk membangun dan merawat aliansi dengan negara-negara yang mendukung perjalanan negaranya menuju integrasi penuh ke tata dunia internasional, termasuk ASEAN.

Di ranah lain, Ramos-Horta juga dikenal aktif mendorong gagasan-gagasan reformasi tata kelola global. Belum lama ini, dalam sebuah forum internasional di Jakarta, mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri bahkan mengusulkan kepada Ramos-Horta agar menginisiasi forum dialog berkala yang mempertemukan pemikir, ilmuwan peraih Nobel, dan pemimpin politik dunia untuk membahas solusi atas krisis kemanusiaan global usulan yang menempatkan Ramos-Horta sebagai figur yang dipandang punya legitimasi moral untuk memimpin inisiatif semacam itu, berkat kombinasi status Nobel Perdamaiannya dan pengalaman panjangnya bernegosiasi di forum-forum multilateral.
Suara negara kecil di meja besar
Latar belakang inilah yang membuat kehadiran Ramos-Horta di sesi "The United Nations We Need" terasa relevan. Sebagai tokoh yang menyaksikan langsung bagaimana PBB melalui misi UNTAET pernah mengelola transisi Timor-Leste menuju kemerdekaan penuh pada 2002, Ramos-Horta membawa perspektif langka: pandangan dari pemimpin negara kecil yang pernah merasakan manfaat sekaligus keterbatasan sistem PBB dari sisi yang paling personal. Perspektif ini sejalan dengan semangat "North-South-East-West" yang diusung Global Town Hall tahun ini upaya menghadirkan suara-suara yang selama ini kerap terpinggirkan dari meja perumusan kebijakan global.
Ia tampil berdampingan dengan sejumlah kepala negara dan pemerintahan lain: Taoiseach Irlandia Micheál Martin, Perdana Menteri Papua Nugini James Marape, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Vietnam Lê Hoài Trung, serta mantan kepala negara seperti Laura Chinchilla (Kosta Rika), Danilo Türk (Slovenia), dan Francisco Sagasti (Peru). Kehadiran Ramos-Horta di antara para pemimpin ini menempatkan Timor-Leste dalam percakapan yang sama dengan negara-negara yang jauh lebih besar dan mapan secara diplomatik.
Sebagai people-to-people summit virtual berskala global yang diprakarsai Indonesia, Global Town Hall 2026 mencatat lebih dari 6.500 peserta dari lebih 100 negara memberi Ramos-Horta dan Timor-Leste ruang untuk didengar oleh audiens internasional yang jauh lebih luas dari kapasitas diplomasi bilateral biasa. Kemitraan media The Oekusi Post dengan FPCI dalam sesi ini turut memastikan perspektif Timor-Leste terwakili dalam liputan atas forum tersebut.

